Mari kita bicara jujur-jujuran saja sambil ngopi. Di negeri kita tercinta ini, anggaran pembangunan seringkali menjadi topik yang lebih panas daripada sambal korek. Namun, apa yang terjadi di Selomerto ini adalah tamparan keras bin elegan bagi siapa saja yang berpikir bahwa estetika harus selalu berbanding lurus dengan tumpukan uang rakyat yang menggunung. Bayangkan, dengan modal 50 juta yang bersumber dari CSR BUMD dan swadaya masyarakat, seniman lokal kita - mas Arianto yang merupakan lulusan ISI Surakarta - berhasil membuktikan bahwa dedikasi dan skill murni tidak bisa dibeli dengan sekadar angka di atas kertas. Beliau menggarap patung setinggi hampir 7 meter ini dengan penuh perasaan, memastikan setiap detail "Nyawak" (sebutan lokal untuk biawak) tersebut tampil semirip mungkin dengan aslinya.
Kenapa harus biawak? Mungkin itu pertanyaan yang muncul di kepala kita yang sudah terbiasa melihat tugu berupa pahlawan atau bunga. Pemilihan biawak ini bukan tanpa filosofi yang mendalam. Hewan ini adalah predator alami di aliran Sungai Serayu yang melintasi kawasan tersebut. Biawak adalah simbol keseimbangan ekosistem. Mereka adalah penjaga lingkungan yang tangguh. Dengan membangun tugu ini, masyarakat Desa Kerasak sebenarnya sedang mengirimkan pesan cinta kepada alam - sebuah pengingat bahwa kita harus hidup berdampingan dengan makhluk lain, termasuk sang predator sungai ini. Jadi, ini bukan sekadar patung hewan, tapi monumen kesadaran ekologis yang dibungkus dengan estetika tinggi.
Efek dari viralnya tugu ini pun luar biasa. Kini, titik di jalur nasional tersebut mendadak jadi destinasi wisata dadakan. Banyak pengendara yang sengaja menepi hanya untuk sekadar swafoto atau memastikan apakah patung itu benar-benar diam atau tiba-tiba mau minta jatah makan siang. Ini membuktikan bahwa daya tarik sebuah wilayah tidak selalu butuh proyek raksasa yang merombak segalanya. Cukup dengan sentuhan seni yang jujur, sebuah sudut desa bisa menjadi perbincangan nasional. Mas Arianto dan Karang Taruna setempat telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa kreativitas adalah solusi terbaik di tengah keterbatasan. Kalau ada yang bisa bikin karya sekelas museum internasional dengan budget minimalis, kenapa harus cari yang mahal tapi hasilnya minimalis?
"Tugu ini adalah bukti otentik bahwa seniman lokal Wonosobo punya kelas dunia. Kita tidak butuh anggaran miliaran untuk menciptakan sesuatu yang membuat orang takjub. Kita hanya butuh kejujuran dalam berkarya dan dukungan penuh dari komunitas." - Catatan Warga Lokal.
Akhir kata, bagi teman-teman yang kebetulan sedang melintasi jalan Wonosobo-Banjarnegara, jangan lupa mampir sejenak. Lihatlah dengan mata kepala sendiri bagaimana semen dan cat bisa berubah menjadi sosok yang seolah-olah bernapas. Dan bagi para pemangku kebijakan di mana pun berada, Tugu Biawak ini adalah studi kasus yang sangat menarik tentang efisiensi anggaran dan pemberdayaan potensi lokal. Mari kita hargai karya anak bangsa, karena terkadang, harta karun yang sebenarnya tidak terletak pada seberapa besar uang yang dikeluarkan, tapi pada seberapa besar hati yang diletakkan dalam proses pembuatannya. Selamat berwisata, dan tetap waspada, siapa tahu biawaknya tiba-tiba kedip!